Siang ini harusnya aku menyelesaikan sebuah pekerjaan. Tapi tidak kuselesaikan. Tanganku justru bergerak mengakses Youtube, bukan kebiasaanku. Entah bagaimana, dalam rekomendasi playlist Youtube terdapat video OST Up, I wanna Grow Old With You.
Saat memutarnya, aku seperti sedang mengiris bawang, air mata begitu saja keluar. Rasanya sedih membayangkan perasaan Mbah Uti saat beliau menemani Mbah Kakung melepaskan nafas terakhirnya sembari memasang kancing baju koko terakhirnya, setelah 48 tahun bersama. Sedih membayangkan perasaan Mbah Mung saat beliau tahu Mbah Edi suaminya telah berpulang tanpa istrinya disisinya, setelah 35 tahun tak terpisah. Sedih membayangkan perasaan Mbah Ning, saat beliau masih terkena stroke dan hanya seperti jasad tanpa gerakan, mengetahui suaminya yang setia merawatnya, kembali pulang lebih dulu, setelah 31 tahun bersama.
Lebih sedih lagi membayangkan aku sendirian di dunia atau aku harus berucap pamit pergi pada suamiku dan anakku. Atau aku takkan sempat melakukannya.
Bukankah sendiri adalah hal yang menakutkan. Itulah mengapa bayi menangis saat ia dilahirkan.
Pernikahan memang kadang bukan hal yang indah, kadang keindahannya berakhir saat janur mulai menguning dan dibersihkan dari jalanan. Beberapa indah hingga anak-anak lahir. Beberapa hingga anak mulai dewasa dan sang pasangan baru menyadari ada kesalahan dalam pernikahan. Beberapa terlalu terlambat untuk menyadari telah menjalani seluruh kesalahan secara total, tepat ketika nafas terakhir dihembuskan.
Tetapi keindahan pernikahan dapat aku lihat pada mereka yang menemani pasangan mereka menjalani setiap nafas hingga nafas terakhir. Pada mereka yang saling berpegangan tangan dan memeluk satu sama lain saat jalanan menggelap dan menanjak. Pada mereka yang terus tersenyum saat bahkan senyuman itu tak mungkin dapat dilihat karena gulitanya hari-hari. Pada mereka yang sempat mengucap sampai jumpa di pintu Surga pada pasangan mereka yang hendak berjalan pulang.
Aku dulu sempat berpikir aku tidak akan bisa mengikatkan diriku pada sebuah komitmen seserius ini. Tetapi melihat banyaknya keindahan pernikahan, aku yakin aku akan menemukan jodohku dan kami menikah dalam keindahan.
Memang takkan ada pernikahan yang sempurna. Seperti kapal, dia tidak diciptakan hanya untuk bersandar di pantai. Kapal yang sempurna, ditujukan untuk gelombang yang sangat keras menghempas. Kayu kapal akan makin menguat karena air laut yang menghempasnya. Pernikahan akan makin menguat seiring ombak yang menerjang.
Tidakkah kita ingin bersama suami kita hingga salah satu dari kita bersiap berjalan pulang?
Apakah dia yang ditakdirkan menemani kita hingga akhir usia?
Apakah dia, yang bersama kita berdoa supaya kelak kita akan saling menunggu di pintu surga?
Apakah pernikahan ini, sebenar-benarnya pernikahan dengan dia yang kita sebut teman sehidup-semati?
Apakah kita sedang menempuh perjalanan yang sebenarnya?
Kupikir pertanyaan itu akan terjawab saat kita mampu mengambil jarak sebentar.
Dan akhirnya
Saat memutarnya, aku seperti sedang mengiris bawang, air mata begitu saja keluar. Rasanya sedih membayangkan perasaan Mbah Uti saat beliau menemani Mbah Kakung melepaskan nafas terakhirnya sembari memasang kancing baju koko terakhirnya, setelah 48 tahun bersama. Sedih membayangkan perasaan Mbah Mung saat beliau tahu Mbah Edi suaminya telah berpulang tanpa istrinya disisinya, setelah 35 tahun tak terpisah. Sedih membayangkan perasaan Mbah Ning, saat beliau masih terkena stroke dan hanya seperti jasad tanpa gerakan, mengetahui suaminya yang setia merawatnya, kembali pulang lebih dulu, setelah 31 tahun bersama.
Lebih sedih lagi membayangkan aku sendirian di dunia atau aku harus berucap pamit pergi pada suamiku dan anakku. Atau aku takkan sempat melakukannya.
Bukankah sendiri adalah hal yang menakutkan. Itulah mengapa bayi menangis saat ia dilahirkan.
Pernikahan memang kadang bukan hal yang indah, kadang keindahannya berakhir saat janur mulai menguning dan dibersihkan dari jalanan. Beberapa indah hingga anak-anak lahir. Beberapa hingga anak mulai dewasa dan sang pasangan baru menyadari ada kesalahan dalam pernikahan. Beberapa terlalu terlambat untuk menyadari telah menjalani seluruh kesalahan secara total, tepat ketika nafas terakhir dihembuskan.
Tetapi keindahan pernikahan dapat aku lihat pada mereka yang menemani pasangan mereka menjalani setiap nafas hingga nafas terakhir. Pada mereka yang saling berpegangan tangan dan memeluk satu sama lain saat jalanan menggelap dan menanjak. Pada mereka yang terus tersenyum saat bahkan senyuman itu tak mungkin dapat dilihat karena gulitanya hari-hari. Pada mereka yang sempat mengucap sampai jumpa di pintu Surga pada pasangan mereka yang hendak berjalan pulang.
Aku dulu sempat berpikir aku tidak akan bisa mengikatkan diriku pada sebuah komitmen seserius ini. Tetapi melihat banyaknya keindahan pernikahan, aku yakin aku akan menemukan jodohku dan kami menikah dalam keindahan.
Memang takkan ada pernikahan yang sempurna. Seperti kapal, dia tidak diciptakan hanya untuk bersandar di pantai. Kapal yang sempurna, ditujukan untuk gelombang yang sangat keras menghempas. Kayu kapal akan makin menguat karena air laut yang menghempasnya. Pernikahan akan makin menguat seiring ombak yang menerjang.
Tidakkah kita ingin bersama suami kita hingga salah satu dari kita bersiap berjalan pulang?
Apakah dia yang ditakdirkan menemani kita hingga akhir usia?
Apakah dia, yang bersama kita berdoa supaya kelak kita akan saling menunggu di pintu surga?
Apakah pernikahan ini, sebenar-benarnya pernikahan dengan dia yang kita sebut teman sehidup-semati?
Apakah kita sedang menempuh perjalanan yang sebenarnya?
Kupikir pertanyaan itu akan terjawab saat kita mampu mengambil jarak sebentar.
Everybody needs a little time away
Even lovers need a holiday
Far away from each otherEven lovers need a holiday
Dan akhirnya
You're just a part of me
I can't let go
Komentar
Posting Komentar