PUNYA ANAK!

Punya anak. Kebayang ga kamu yang begajulan dan kebanyakan cita-cita itu, bisa tau-tau punya perut berisi calon manusia, bernafas, berdetak, kadang menendang, dan pada suatu hari, dia seakan menentukan hidup matimu. Nafasmu hampir putus dan kamu nyaris dikirim ke liang lahat.
Dan dia datang, penuh kekacauan yang terbalut keindahan dan semua berubah. Dia adalah anakmu.

Malammu tak lagi sama, apalagi siangmu. Tidak sekedar kerja lembur, tetapi nyaris kamu menjadi budak. Budak dari sesosok mungil yang untuk memegang tanganmu saja dia masih terlalu lemah. Tangisnya menjadi penentu perasaanmu. Rambutmu yang berketombe tak sepenting jarum timbangan berat badannya. Kamu bahkan rela menukar duniamu dengan si mungil penuh kekacauan ini. Dia adalah anakmu.

Butuh waktu tak sebentar buat aku menerima keberadaan seorang bayi. Bukan berarti aku menolaknya, tolong jangan salah mengerti. Aku sangat bahagia saat melihatnya datang. Sorry, bahagia yang aku sendiri tidak tahu cara menuliskannya. Bukan bahagia seperti lulus kuliah atau dapat pekerjaan pertama. Bukan sih. Bukan bahagia saat pulang ke rumah. Bukan itu sih.
Tapi jenis bahagia seperti kamu menemukan Tuhanmu. Bingung ya? Sejenis bahagia yang melegakan. Entahlah.

Tapi dia mengubah aku. Si mungil yang mendadak lahir ini mengubah semuanya yang melekat di aku. Oh aku dulu unstoppable. Dan sekarang, aku lebih sering berhenti untuk melihat keadaan mesinku. Melihat ke kedalaman hatiku. Menyapa diriku sendiri. Menanyakan kabarku. Dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Mempercayai Tuhan jauh yang pernah aku lakukan oleh aku versi belum ada si mungil. Aku lebih sering berbincang dengan diriku. Di dapur, di kamar mandi, di bawah pancuran air, di kebun kecil, di jalanan, di kereta, di atas ojek, di dalam mobil, dimanapun.
Aku lebih peduli pada diriku. Karena hanya dengan diriku yang lengkaplah, aku bisa menjaga titipan Tuhan paling keren ini. Karena dia butuh aku yang sehat, bahagia dan nyaman. Tidak yang lain.
Hanya dengan itulah, caraku menjaga titipan ini.

DENGAN AKU MENCINTAI DIRIKU.

Sehingga si mungil ini akan belajar untuk mencintai dirinya dan menjadi bahagia dalam versinya.

Bukankah kita butuh dunia yang berisi orang-orang bahagia?

Jangan ragu membahagiakan diri sendiri. Unconditional happiness.
Kalau bukan kita, siapa lagi?
:)

Allah menyukai muslim yang kuat. Pemurung tidak akan pernah bisa kuat.

Happy Weekend

Komentar

  1. I LAAAPP UUU MAK JINDUTTT...💋💋💋

    BalasHapus

Posting Komentar